6 Tanda Jika Kamu Dominan "Ventilitating Feelings"
- Admin

- 3 Nov 2019
- 2 menit membaca
Diperbarui: 30 Jan 2020
Ventilitating Feelings atau usaha untuk melepaskan emosi yang kamu rasa, ketima kamu berada dalam situasi yang menekan atau masalah tertentu.
Menahan emosi terlalu sering, dapat berdapak luas pada fisik dan psikologis, maka untuk beberapa orang yang dominan terhadap strategi ini, kamu termasuk pandai dalam "Menyelamatkan" dampak dari tekanan emosi.
Terdapat 6 (enam) ciri, yang menandakan kamu termasuk golongan ini, diantaranya adalah :
1. Menceritakan ini dan itu kepada keluarga, melampiaskan apa saja yang kamu rasakan dari sebuah kejadian yang membuat kamu merasa tertekan. Hal ini bisa berakibat baik, menandakan kamu mempercayai keluarga kamu menjadi orang terdekat yang membuatmu nyaman bercerita.
Namun, kamu bisa jadi terlalu "ekstra" dalam bercerita, Kamu bisa melihat situasi dan kondisi, apakah keluarga kamu berada dalam kondisi "siap" untuk mendengar cerita atau belum.
2. Marah dan berteriak ke orang-orang. Pengalaman dan pelajaran untuk bereaksi terhadap sesuatu, bisa didapatkan dari lingkungan sekitar. Ketika seseorang seringkali melihat orang marah-marah ketika ia menanggapi sesuatu, mungkin karena ia sedang berada dalam tekanan yang besar. Ikuti yang baik, dan biarkan yang buruk.
Marah karena sesuatu tidaklah buruk, namun harus disadari kenapa kamu perlu marah dan marah-marah. Apakah sesuatu akan membaik jika kamu marah berlebihan atau tidak. Dan ingatlah, bahwa orang yang marah-marah dan berteriak, dapat menarik otot wajah dan saraf-saraf.
Jadi, kamu ga mau cepet tua kan?
3. Mengumpat. "Dasar wortel!", "Dasar serigala berbulu kaki!", "Eh orang! kamu gak punya sayap yah?!". Seringkali orang ingin sekali mengumpat untuk mewakili perasaan yang sedang menggebu. Seperti ketika terus menerus diberikan tugas menulis esai dan kamu "Ya ampun! tanganku sudah seperti kentang! dasar zamrud Ciliwung!".
Terbiasa mengumpat? bagaimana jika ubah umpatanmu dengan kata-kata yang baik? setiap ucapan adalah doa, dan baik buruknya doa akan kembali ke diri kita sendiri.
Bagaimana cara agar umpatan jadi baik? - Cobalah sering mengucapkannya dalam hati dan pikiran. Sebab apa yang terucap adalah apa yang biasanya didengar, dilihat, dan diucapkan berulang kali. Selamat mencoba, Copties!
4. Menyalahkan oranglain, atas hal yang terjadi. "Lama sih kamu! jadi kehabisan kan", dll.
Perlahan tapi pasti, remaja akan tumbuh semakin dewasa. Menerima kekurangan dan kondisi seseorang, bisa mengurangi tekanan emosi yang dirasakan. Menyalahkan juga tidak apa-apa selagi kita tahu bahwa itu masih dalam "kadar" wajar.
5. Sarkasme atau kata-kata buruk kepada orang tertentu. Banyak hal yang bisa kita lakukan untu mengurangi emosi tertentu. Contohnya ketika mendapatkan masalah keterlambatan info bahwa hari ini ada ujian dadakan, namun ketua kelas telat mengabarkan. Alhasil sindiran-sindiran pedas dilontarkan, saking "Terkejutnya" ujian dadakan yang menimbulkan stres, dan ketua kelas yang tidak cekatan dengan, "Enak ya ketua kelas pinter, tanpa belajar bisa kerjain ujian".
Percaya atau tidak, cara ini hanya akan memenangkan emosimu sesaat. Sedangkan masalahmu adalah "Ujian" itu sendiri. Kamu hanya akan berputar pada emosimu sendiri dan mengurangi stres mu hanya sedikit.
6. Mengeluh pada teman. "Guys, PR minggu ini banyak banget! jadwal tidur aku berantakan nih". Teman bisa jadi mediator yang baik untuk membantu kamu mengurangi stres atas sesuatu,
Temanmu bisa memberikan reaksi dan terbentuk komunikasi yang membuat kamu merasa lebih baik secara emosi.
Itukah kamu?
Apakah artikel ini membantu?
Bagikan pendapat dan pengalamanmu tentang isi artikel ini ^^
Salam, Copties!


Komentar